About Me

Visitors

Flag Counter
Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Saturday, 12 November 2011

WANITA PADA SAAT PERSALINAN


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Sekarang disadari bahwa penyakit dan komplikasi obstetric tidak semata-mata disebabkan oleh gangguan organic. Beberapa diantaranya ditimbulkan atau diperbuat oleh gangguan psikologik. Latar belakang timbulnya penyakit dan komplikasi dapat dijumpai dalam berbagai tingkat ketidakmatangan dalam perkembangan emosional dan psikoseksual dalam rangka kesanggupan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan situasi tertentu yang sedang dihadapi, dalam hal ini khususnya kehamilan, persalinan dan nifas. Karena rasa nyeri dalam persalinan sejak zaman dahulu sudah menjadi pokok pembicaraan diantara wanita, maka banyak calon ibu menghadapi kehamilan dan kelahiran anknya dengan perasaan takut dan cemas. Tidaklah mudah untuk menghilangkan rasa takut yang sudah berakar dalam itu, akan tetapi dokter dan bidan dapat berbuat banyak dengan membantu para wanita yang disinggapi perasaan takut dan cemas. Sejak pemeriksaan kehamilan pertama kali dokter atau bidan harus dengan kesabarannya meyakinkan calon ibu bahwa kehamilan dan persalinan adalah hal yang normal dan wajar. Dia tidak hanya harus menimbulkan kepercayaan, akan tetapi harus pula menimbulkan anggapan pada wanita yang bersangkutan bahwa ia seorang kawan yang ahli dalam bidangnya dan yang sungguh-sungguh berkeinginan mengurangi rasa nyerinya serta menyelamatkan ibu dan anak. Perubahan psikologis keseluruhan seorang wanita yang sedang mengalami persalinan sangat bervariasi, tergantung pada persiapan dan bimbingan antisipasi yang ia terima selama menghadapi persalinan, dukungan yang diterima wanita dari pasangannya, orang terdekat lain, keluarga dan pemberi perawatan. Dengan alasan itulah penulis mengambil tema permasalahan psikologi yang dihadapi wanita saat menghadapi kelahiran.
  1. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini terdiri dari :
  1. Tujuan umum : untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah Psikologi dengan judul “ Permasalahan psikologis pada saat kelahiran “
  2. Tujuan khusus : untuk mengetahui perubahan psikologis yang terjadi pada saat kelahiran dan cara mengatasinya”
  1. Pembatasan Masalah
Penulis hanya membatasi masalah mengenai gangguan psikologis pada ibu dalam masa persalinan.
  1. Metode Penulisan
Metode yang digunakan penulis dalam penulisan makalah ini yaitu,
  • metode pustaka
Penulis menggunakan buku/literatur yang berhubungan dengan tugas yang diberikan untuk menunjang terselesaikannya tugas dengan baik.
  • Metode internet
Penulis menggunakan jasa teknologi yaitu internet dalam mencari materi.

  1. Sistematika Penulisan
Bab I : pendahuluan
Adalah sekumpulan data dan fakta mengenai hal-hal yang berhubungan dengan gangguan psikologis pada masa persalinan. Disamping itu, juga dijelaskan latar belakang masalah, tujuan penulisan, pembatasan masalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan .
Bab II : Pembahasan
Berisi
Bab III : Penutup
Berisi simpulan dan saran

BAB II
ISI

A.               GELISAH DAN TAKUT MENGHADAPI PERSALINAN
Saat menghadapi persalinan, terutama untuk wanita yang baru akan memiliki anak pertama merupakan suatu pengalaman baru dan merupakan masa-masa yang sulit bagi seorang wanita. Tidak mengherankan, calon ibu yang akan melahirkan pertama kali diselimuti perasaan takut, panik, dan gugup. Kecemasan yang terjadi pada wanita yang akan memiliki bayi, umumnya disebabkan karena mereka harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan fisik dan psikologis bayi yang banyak menyita waktu, emosi dan energi, sementara itu seorang wanita tetap dibebani untuk mengurus kebutuhan rumah tangga. Pada saat cemas individu akan sangat sulit untuk menyesuaikan diri baik dengan dirinya sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Menjelang persalinan, banyak hal mengkhawatirkan muncul dalam pikiran ibu. Takut bayi cacat, takut harus operasi, takut persalinannya lama, dan sebagainya. Terlebih bila sebelumnya ada teman atau kerabat yang menceritakan pengalaman bersalin mereka, lengkap dengan komentar yang menyeramkan. Alhasil, bukannya tenang, ibu yang hendak melahirkan jadi tambah cemas. Apalagi jika persalinan pertama. “Selain manusia tidak lepas dari rasa khawatir, calon ibu tidak tahu apa yang akan terjadi saat persalinan nanti. Jangankan persalinan pertama, persalinan yang kelima pun masih wajar bila ibu merasa khawatir.”
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan yang dialami berbeda-beda untuk masing-masing individu. Kecemasan menurut Syarif (2002) dikemukakan sebagai penyakit kecemasan yakni merasa sempit dan penyakit ketakutan, yang juga diartikan sebagai perasaan sempit, disertai dengan adanya kelainan pada anggota tubuh dalam melaksanakan fungsinya seperti : detak jantung yang cepat, jiwa merasa sempit, tidak stabilnya alat pencernaan, susunan syaraf dan otot, kacaunya aktivitas pengeluaran dari berbagai kelenjar yang ada di dalam tubuh dan sebagainya. Kecemasan juga mempunyai segi yang disadari seperti rasa takut, terkejut, tidak berdaya, rasa dosa atau bersalah, terancam dan sebagainya. Juga ada segi-segi yang terjadi di luar kesadaran atau tidak jelas, seperti orang merasa takut tanpa mengetahui sebabnya ia menjadi takut dan tidak dapat menghindari perasaan yang tidak menyenangkan itu. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya rasa takut, cemas dan gelisah adalah diantaranya berkaitan dengan dukungan dari keluarga dan mertua membuat individu merasa lebih diperhatikan dalam menjalani kehamilan. Selain itu pengalaman pernah atau belum mengalami persalinan juga dapat memicu stress psikologis bagi sang ibu. Misalnya, bagi ibu yang belum pernah melahirkan atau dengan kata lain dia baru akan memiliki anak pertama, dia akan merasa sangat cemas dan khawatir tentang seperti apa persalian itu, apakah sangat menyakitkan, apakah sakitnya nanti lama atau tidak dan tentang kondisi bayinya nanti apakah bayinya sehat dan normal atau tidak. Puncak kekhawatiran muncul bersamaan dengan dimulainya tanda-tanda akan melahirkan. Kontraksi yang lama-kelamaan meningkat menambah beban ibu, sehingga kekhawatiran pun bertambah. Pada kondisi inilah perasaan khawatir, bila tidak ditangani dengan baik, bisa merusak konsentrasi ibu sehingga persalinan yang diperkirakan lancar, berantakan akibat ibu panik.
Kekhawatiran yang teramat sangat pun bisa membuat otot-otot, termasuk otot di jalan lahir, bekerja berlawanan arah, karena dilawan oleh ibu yang kesakitan. Akibatnya, jalan lahir menyempit dan proses persalinan berjalan lebih lama dan sangat menyakitkan. Bahkan bisa sampai terhenti. Pengalaman melahirkan pertama kali memberikan perasaan yang bercampur baur antara bahagia dan penuh harapan dengan kekhawatiran tentang apa yang akan dialami semasa persalinan. Kecemasan tersebut muncul karena bayangan tentang hal-hal yang menakutkan saat proses persalinan, walaupun apa yang dibayangkan belum tentu terjadi. Situasi ini menimbulkan perubahan drastis, bukan hanya fisik dan psikologis.
Cara yang dapat dilakukan untuk meminimalisir terjadinya stress psikologis pada diri ibu adalah dengan :
a.       Dari pihak suami
1.      Memberikan perhatian dan dukungan kepada istri selama hamil
2.      Memberikan kasih sayang dan sentuhan hangat kepada istri ketika istri merasa ketidaknyamanan dengan kehamilannya.
3.      Bersedia mengantar dan menemani istri ketika istri ingin memeriksakan atau sekedar berkonsultasi seputar kehamilannya kepada tenaga kesehatan.
b.      Dari pihak keluarga
1.      Membagi pengalaman terutama dari pihak ibu tentang bagaimana persalinan itu, seperti apa rasanya dan seperti apa bangganya seorang ibu dapat melahirkan anak dari rahimnya sendiri.
2.      Memberikan perhatian dengan membawakan kadang-kadang membawakan makanan kepada sang anak tersebut.
c.       Dari pihak tenaga kesehatan
1.      Memberikan penjelasan kepda ibu untuk terus menjaga kehamilannya nanti sampai waktu untuk melahirkan yaitu misalnya dengan makan-makanan yang bergizi dan melakukan olahraga setiap harinya dengan berjalan-jalan pada waktu pagi hari.
2.      Memberikan pengertian mengenai tanda-tanda persalinan atau kelahiran dan bagaimana nanti jalannya persalinan.
    1. Memberitahukan pentingnya religiusitas bagi wanita hamil yang mengalami kecemasan dalam menghadapi persalinan. Karena menurut Meichati (1983) mengemukakan kehidupan beragama dapat memberikan bantuan moral dalam menghadapi krisis serta menimbulkan sikap rela menerima kenyataan sebagaimana yang telah digariskan Tuhan. Penyelesaian masalah hidup melalui keagamaan akan meningkatkan kehidupan ke nilai spiritual sehingga memperoleh keseimbangan mental. Agama juga dapat mempengaruhi kepribadian dan memberikan jalan untuk mendapatkan rasa aman, tidak takut atau cemas, gelisah dalam menghadapi persoalan hidup.

B.   GANGGUAN BOUNDING ATTACHMENT
1.     Pengertian Bounding Attachment
a.       Menurut Nelson Bounding attachment adalah terdiri dari 2 kata yaitu bounding dan attachment. Bounding merupakan proses pembentukan. Sedangkan attachment merupakan membangun ikatan. Jadi bounding attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi.
b.      Menurut Maternal dan Neonatal Health, bounding attachment  adalah kontak dini secara langsung antara ibu dan bayi setelah proses persalinan, dimulai pada kala III sampai dengan post partum.
c.       Menurut Parmi (2000), bounding attachment adalah suatu usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling merespon antara orang tua dan bayi lahir.
d.      Menurut Klause dan Kennel (1983): interaksi orang tua dan bayi secara nyata, baik fisik, emosi, maupun sensori pada beberapa menit dan jam pertama segera bayi setelah lahir
Jadi, dapat disimpulkan bahwa bounding attachment adalah suatu proses untuk membangun ikatan lahir dan batin antara orang tua dengan bayinya atau anaknya. Hal ini merupakan proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan.
2.     Tahap-Tahap Bounding Attachment
a.       Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.
b.      Bounding (keterikatan),
c.       Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain
Menurut Klaus, Kenell (1982), bagian penting dari ikatan ialah perkenalan.
3.     Elemen-elemen Bounding Attachment
a.       Sentuhan
Sentuhan, atau indera peraba, dipakai seara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru loahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya. Penelitian telah menemukan suatu pola sentuhan yang hampir sama yakni pengasuh memulai eksplorasi jari tangan ke bagian kepala dan tungkai kaki. Tidak lama kemudian pengasuh memakai telapak tangannya untuk mengelus badan bayi dan akhirnya memeluk dengan tangannya. Gerakan ini dipakai menenangkan bayi.
b.      Kontak mata
Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak wktu utuk salaing memandang. Beberap ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat degan bayinya
c.       Suara
Saling mendenganr dan meresponi suara antara orang tua dan bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang. Sedangkan bayi akan menjadi tenag dan berpaling kea rah orang tua mereka saat orang tua mereka berbicara dengan suara bernada tinggi.
d.      Aroma
Perilaku lain yang terjalaina antara orang tua dan bayi ialah respons terhadap aroma / bau masing-masing. Ibu mengetahui setiap anak memiliki aroma yang unik. Sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya.
e.       Entraiment
Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraaan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikut nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mula berbicara. Irama ini berfungsi member umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.
f.       Bioritme
Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibuya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan member kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu sat bayi mengembangkan perilaku yang responsive. Hal ini dapat meningkatkan interaksi social dan kesempatan bayi untuk belajar.
g.      Kontak dini
Saat ini, tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting hubungan orang tua-anak. Namun menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini:
1.      Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat
2.      Reflek menghisap dilakukan dini
3.      Pembentuk kekebalan aktif dimulai
4.      Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak
h.      Body warmth (kehangatan tubuh)
i.        Waktu pemberian kasih sayang
j.        Stimulasi hormonal
C.   Prinsip-Prinsip dan Upaya Meningkatkan Bounding Attachment
1.      Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).
2.      Sentuhan orang tua pertama kali.
3.      Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke anak.
4.      Kesehatan emosional orang tua.
5.      Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan.
6.      Persiapan PNC sebelumnya.
7.      Adaptasi.
8.      Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak.
9.      Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman.
10.  Fasilitas untuk kontak lebih lama.
11.  Penekanan pada hal-hal positif.
12.  Perawat maternitas khusus (bidan).
13.  Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga, teman dan pasangan.
14.  Informasi bertahap mengenai bounding attachment
D.   Keuntungan Bounding Attachment
1.      Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.
2.      Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.
3.      Meningkatkan kedekatan secara emosional antara ibu dan bayinya.
E.    Gangguan Bounding Attachment
1.      Respon ayah dan keluarga
Ayah mungkin menjadi anggota keluarga yang terlupakan, terutama bila hal ini merupakan anak yang pertama. Sebelum bayi tiba di rumah, ia merupakan bagian terbesar dari keluarganya yang terdiri dari dua orang. Aktivitas siang hari dimana mudah disesuaikan dengan pasangannya malam hari tanpa gangguan. Kini rumah menjadi tidak terkendali, makan menjadi tidak terjadwal, tidur mengalami gangguan dan hubungan seksual untuk sementara ditangguhkan. Ayah harus dilibatkan dalam perwatan anak dan pemeliharaan aktivitas rumah. Dengan berbagai tanggung jawab seperti ini, mereka menjadi bagian dari pengalaman mengasuh anak. Sebagai akibat, pasangan menjadi lebih dekat.
Sebagai ayah baru, peran ayah tidak kurang rumitnya dibandingkan peran istri. Tentu sang ayah tidak mengandung si bayi selam 9 bulan, tetapi harus membuat penyesuaian secara fisik dan emosi ketika waktu persalinan semakin dekat dan persiapan untuk bayi menjadi penting sekali. Di satu pihak, sang ayah ungkin merasa seolah-olah tidak ada hubungan dengan persalinan tetapi pada sisi lain ini adalah bayinya juga. Ketika bayi akhirnya lahir, sang ayah mungkin merasa sangat lega dan juga gembira serta gugup. Sewaktu menyaksikan kelahiran bayi, perasaan komitmen dan cinta membanjir ke permukaan menghilangkan kekhwatiran bahwa sang ayah tidak akan pernah mempunyai keterikatan dengan bayinya. Sang ayah juga merasakan penghargan yang besar dan cinta kepada istri lebih dari pada sebelumnya. Pada waktu yang sama, merenungkan tanggung jawab untuk merawat baka ini salam 20 tahun ke depan dapat membuat sang ayah lemah.
Pendekatan terbaik adalah menjadi ayah yang seaktif mungkin. Misalnya, saat istrinya melahirkan di rumah sakit, ayah mungkin di tempatkan di dalam ruang rawat gabung sampai waktunya membaw pulang bayi ke rumah. Ini akan membantu ayah merasa tidak seperti penonton tetapi lebih sebagai peserta aktif. Ayah akan mengenal bayinya dari permulaaan juga memungkinkan ayah berbagi pengalaman emonsional dengan istirnya. Begitu seluruh keluarga berada di rumah, sang ayah dapat dan harus membantu memakaikan popok, memandikan dan membuat senang bayi. Kebalikan dengan sterotype kuno, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan eksklusif wanita.
Tidak ada alasan mengapa seorang ayah tidak mampu melaksanakan pekerjaan sehari-hari mengurus rumah dan anak sebaik ibu. Umumnya ayah yang bersedia mengurus rumah tangga hanya untuk menyenangkan istrinya saja. Alangkah baiknya jika pekerjaan ini dikerjakan dengan perasaan bahwa sudah selayaknya menerima tanggung jawab di dalam rumah yaitu merawat anak dan rumah tangga sehari-hari.
2.      Sibling Rivally
Salah satu peristiwa kunci dalam kehidupan anak adalah kelahiran adik baru. Kehamilan itu sendiri merupkan waktu ideal bagi anak-anak untuk memahami darimana bayi berasal dan bagaimana bayi itu dilahirkan. Anak mungkin memiliki reaksi campuran terhadap adik baru, bergairalah karena mendapat teman bermain baru, takut akan ditelantarkan dan sering kecewa ketika sang adik tidak mau segera bermain. Akan tetapi persaingan sengit yang ditakutkan oleh banya orang tua bukan tidak dapat dihindari. Temperamen anak tertentu itu dan cara orang tua memperlakukan anak adalah faktor kunci yang menentukan seberapa besar persaigan yang terjadi di antara saudara kandung.
Tidak mudah memang untuk menjaga keseimbangan yang tepat antara menyesuaikan diri dengan kebutuhan bayi baru dan membantu anak yang lebih besar mengatasi perubhahn itu. Usahakan agar anak yang lebih besar mendapat beberapa keistimewaan, mungkin dengan waktu tidur lebih larut atau waktu khusus untuk perhatian yang tidak terbagi untuknya. Pastikan pula bahwa anak yang lebih kecil dilindungi dari perlakuan marah dan suka memerintah dari anak yang lebih besar, lebih kuat dan lebih pandai.
Percekcokan yang bercampur dengan permainan yang menyenangkan adalah pola yang lazim di antara kakak dan adik. Tidak bijaksana bila kit mengharapkan seseorang anak selalu bertindak adil menurut standar orang dewaasa. Barna gkali lebih baik mengajar semua anak karena tidak bertengkar atau memarahi mereka semua ketika mereka berkelahi daripada mencoba menyelidiki siapa yang benar dan siapa yang salah. Walaupun tanpa bisa dihindari sekali waktu mungkin bertindak berlebihan, waspadalah agar seorang anak jangan selalu diberi dukungan dengan mengorbakan anak lain.
Jika saudara kandung adalah anak prasekolah, dia akan lebih dapat lebih memahami apa yang sedang terjadi. Dengan mempersiapkan dia selama kehamilan, orang tua dapat membantu mengurangi kebingungan atau rasa irinya. Dia dapat memahami fakta dasar dari situasi tersebut dan dia kemungkinan akan sangat ingin tahu tentang orang yang ingin dia ketahui ini. Begitu bayi lahir, anak yang lebih besar merasa kehilangan orang tuanya dan marah karena bayi akan menjadi pusat perhatian baru. Tetapi dengan memuji dia karena telah memabtu dan bertindak seperti “orang dewasa” akan membuat anak tahu bahwa dia juga mempunyai peran baru yang penting untuk dimainkan. Pastikan bahwa anak mendapatkan waktu menjadi “orang penting” dan diizinkan menjadi “bayi” sewaktu dia merasa perlu. Selain itu sering diberikan kesempatan agar dia tahu bahwa ada scukup ruang dan cinta kasih dalam hati orang tua untuk mereka berdua.
Jika saudara kandung sudah memasuki usia sekolah, dia mungkin tidak lagi merasa terncam oleh pendatang baru dalam keluarga. Bahkan kemungkinan besar dia kagum dengan proses kehamilan dan persalinan, serta ingin sekali bertemu dengan bayi yang baru.
3.      Kurangnya support sistem.
Kurangnya perhatian dari suami dan keluarga kepada ibu yang telah melahirkan akan menjadikan psikologis dari seorang ibu akan terganggu. Ibu mungkin akan berfikir “anakku ini adalah anak yang tidak diharapkan oleh suami dan keluargaku”. Selain itu ibu juga akan berfikir “mereka semua perhatian kepadaku hanya ketika aku hamil tapi setelah aku melahirkan mereka sudah tidak mempedeulikanku dan membiarkanku merawat bayiku sendiri karena mungkin mereka pikir aku sudah sehat”. Hal itu akan berdampak buruk pada hubungan antara si anak dan ibu, karena ibu tersebut akan malas untuk mengasuh anaknya.
4.      Ibu dengan resiko (ibu sakit).
Ibu yang sakit-sakitan akan berkonsentrasi untuk kesehatannya dan anaknya biasanya dirawat oleh mertua atau suaminya. Ibu akan kehilangan banyak waktu dengan anknya sehingga itu juga dapat memperenggang kedekatan ibu dengan anaknya.
5.      Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik).
Bayi dengan cacat fisik yang dilahirkan dari keluarga yang sehat dan normal dapat juga menjadi salah satu penyebab ketidakdekatan antara sang ibu dan bayinya. Ibu mungkin merasa malu dengan anak yang dilahirkannya. Ibu merasa bahwa anaknya itu adalah sebuah aib besar. Ibu cenderung akan tidak mempedulikan ankanya, jahat kepda anknya dan suka mencemooh anaknya ketika si anak besar kelak. Hal ini juga berdampak tidak baik bagi psikis si anak karena dia akan merasa tidak diakui anak oleh ibunya dan merasa tidak terima dengan kecacatan fisik yang ia alami.
6.      Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.
Bayi yang lahir dari hasil hubungan yang tidak diinginkan akan menjadikan suatu dosa yang diderita oleh ibu selam hidupnya. Dia akan merasa hak kebebasannya yang seharusnya masih ia miliki terampaas dengan adanya anak itu. Dia juga akan membenci si anak.
F.    Cara mengatasi gangguan bounding attachment
1.      Dengan menanamkan pemikiran dalam hati bahwa anak itu adalah anugrah dari Tuhan kepada kita semua yang kita diberi tugas untuk menjaga, menyayangi, mencintai, dan membimbingnya menuju ke jalan yang benar agar masa depan anak tersebut cerah dan nantinya akan menjadi pribadi yang baik di dunia dan di akhirat.
2.      Memberikan suatu pemahaman bahwa apabila anak yang dilahirkan memiliki kekurangan, maka sebagai orang tua harus memiliki suatu pandangan bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka dari itu, orang tua harus menerima kekurangan anaknya dengan hati yang lapang.

BAB III
PENUTUP

A.       KESIMPULAN
1.      Gelisah dan takut yang dialami oleh ibu selama persalinan adalah suatu hal yang wajar, sebagai tenaga kesehatan kita harus memaklumi dan sebisa mungkin memberikan konseling agar gelisah dan takut yang dialami ibu berkurang.
2.      Bounding Attachment adalah suatu ikatan antara bayi dengan ibunya dimulai dari masa kehamilan sampai kelahiran.
B.      SARAN
1.      Dari pihak keluarga dapat memberikan suatu dukungan agar ibu tidak merasa gelisah dan takut dalam menghadapi persalinan.
2.      Dari pihak tenaga kesehatan dapat memberikan pengetahuan kepada ibu tentang bagaimana persalinan itu dan seperti apa rasanya sehingga ibu tidak merasa takut untuk menghadapi persalinan.
3.      Pendidikan bounding Attachment harus diberikan oleh tenaga kesehatan agar ibu dapat meningkatkan ikatan kasih sayangnya dengan si bayi.


DAFTAR PUSTAKA


  1. Pitt, Brice. Kehamilan dan Persalinan. 1996. Jakarta. Arcan
  2. Tarwoto-Wartona. Kebutuhan Dasar  Manusia dan Proses Keperawatan. 2004. Jakarta. Salemba Medika

Tuesday, 15 February 2011

CARA MENGATASI GANGGUAN PSIKOLOGI PADA WANITA MENOPAUSE (Makalah)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kehidupan pada dasarnya merupakan suatu proses perubahan yang kontinyu atau serangkaian perkembangan yang kontinyu dari lahir sampai mati. Jadi perkembangan akan dialami oleh setiap individu. Setiap perkembangan mengandung pengertian adanya suatu proses menuju pada suatu kemasakan dan kematangan yang meliputi aspek jasmaniah, rohaniah dan sosialnya. Bila seorang individu telah mencapai periode kemasakan, baik aspek fisik, psikis maupun  sosial, yang umumnya  dapat dicapai pada usia remaja - dewasa, maka periode berikutnya adalah tahap kemantapan dan untuk selanjutnya adalah peiode penurunan.
      Menjadi tua adalah suatu proses yang merupakan bagian dari kehidupan seseorang, dan sudah terjadi sejak konsepsi dalam kandungan yang berlangsung terus sepanjang kehidupan. Usia lanjut mengandung pengertian adanya perubahan yang progresif pada organisme yang telah mencapai kemasakan, perubahan ini bersifat umum dan irreversible (tidak dapat kembali).
Menopause merupakan suatu gejala dalam kehidupan wanita yang ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi. Menopause adalah fase alami dalam kehidupan setiap wanita yang  menandai berakhirnya masa subur. Menopause seperti halnya menarche dan kehamilan dianggap sebagai peristiwa yang sangat berarti bagi kehidupan wanita. Menarche pada remaja wanita, menunjukkan mulai diproduksinya hormon estrogen, sedang menopause terjadi karena ovarium tidak menghasilkan atau tidak memproduksi hormon estrogen.
Sejalan dengan proses ketuaan yang pasti dialami setiap orang, terjadi pula kemunduran fungsi organ-organ tubuh termasuk salah satu organ reproduksi wanita, yaitu ovarium. Terganggunya fungsi ovarium menyebabkan berkurangnya produksi hormon estrogen, dan ini akan menimbulkan beberapa penurunan atau gangguan pada  aspek fisik-biologis. Pada sebagian wanita, munculnya gejala atau gangguan fisik sebagai akibat dari berhentinya produksi hormon estrogen, juga akan berpengaruh pada kondisi psikologis, dan sosialnya.
B.     Tujuan
1.      Mengetahui definisi menopause
2.      Mengetahui jenis gangguan menopause
3.      Mengetahui proses terjadinya gangguan menopause
4.      Mengetahui cara mengatasi gangguan menopause

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Menopause
Menurut Mappiare (1983), Menopause adalah penghentian fungsi mastural, yang berlangsung selama masa klimakterium pada wanita yang meliputi perubahan emosional yang bersamaan terjadinya.
Menurut Rivlin (1982), Menopause adalah suatu fakta yang tak terhindarkan dalam kehidupan setengah baya yang menimbulkan gejala psikis  seperti : depresi, kecemasan, dan ketidakstabilan emosi.
Menurut Andrianto(1985), Menopause adalah proses surutnya haid yang tidak berlangsung secara drastic tetapi secara perlahan-lahan,yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan serta hal tersebut membuat hilangnya daya tarik yang telah dimiliki hilang
Menopause adalah berhentinya secara fisiologis siklus menstruasi yang berkaitan dengan tingkat lanjut usia perempuan. Seorang wanita yang mengalami menopause alamiah sama sekali tidak dapat mengetahui apakah saat menstruasi tertentu benar-benar merupakan menstruasinya yang terakhir sampai satu tahun berlalu.
Menopause merupakan pertanda berhentinya sikulus reproduksi normal atau berhentinga siklus menstruasi dari seorang wanita dan khususnya terjadi antara usia 45 - 55 tahun karena produksi dan fungsi hormon wanita untuk mengatur menstruasi mengalami penurunan secara alamiah. Namun, menopause dapat juga terjadi pada usia lebih muda karena penyakit atau operasi pengangkatan uterus atau indung telur.
Menopause dapat terjadi karena indung telur mensekresi lebih sedikit zat estrogen, kehabisan telur dan menjadi berkurang responsif terhadap hormon FSH. Mula-mula kelenjar hipofisis membuat lebih banyak FSH, untuk mencoba mempertahankan tingkat estrogen yang normal, tetap akhirnya ia tidak mampu.
Penurunan kadar estrogen, menyebabkan periode menstruasi yang tidak teratur, dan ini dapat dijadikan petunjuk terjadinya menopause.  Ada tiga periode menopause, yaitu:
1.      Klimakterium, yaitu merupakan masa peralihaan anatara masa reproduksi dan masa senium. Biasanya periode ini disebut jga dengan pramenopause.
2.      Menopause, adalah saat haid terakhir, dan bila sesudah menopause disebut pasca menopause.
3.      Senium, adalah periode sesudah pasca menopause, yaitu ketika individu telah mampu menyesuaikan dengan kondisinya, sehingga tidak mengalami gangguan fisik
B.     Gangguan Menopause
Menopause bukanlah suatu penyakit, namun merupakan tahap yang tidak dapat dihindari pada kehidupan wanita. Banyak wanita dengan menopause tidak mengalami gejalanya, tetapi banyak juga yang mengalami gejala yang sangat mencolok. Beberapa gejala dari menopause tersebut yaitu:
  • Penurunan jumlah dan lama siklus menstruasi.
  • Frekuensi menstruasi abnormal (kemungkinan dengan pendarahan yang berlebihan) atau hanya merupakan tetesan.
  • Menopause sebagai akibat dari hilangnya fungsi indung telur dan berkurangnya hormon estrogen dapat menyebabkan perubahan pada sistem tubuh antara lain:
a)      Sistem reproduksi; mengalami penyusutan pada alat genitalia eksternal dan kehilangan lemak di bawah kulit, penyusutan labia, penyusutan mukosa vagina, jaringan vagina mengalami pengendoran, vagina terasa gatal dan keluar cairan, kekeringan pada vagina sangat parah dan rasa sakit sewaktu berhubungan badan karena pelumas vagina berkurang, penyusutan indung telur dan salurannya, panggul mengalami relaksasi progresif karena kehilangan estrogen yang menyebabkan struktur pendukung kehilangan tonusnya.
b)      Sistem urinal, kandung kemih meradang akibat dari penurunan estrogen, sakit sewaktu buang air kecil, sering dan selalu ingin buang air kecil.
c)      Buah dada mengalami penyusutan ukuran.
d)     Hilangnya libido atau hasrat seks.
e)      Kulit, rambut dan kuku, elastisitas kulit dan kekenyalan menurun (karena kehilangan estrogen) rambut pubis dan ketiak mulai rontok.
f)       Sistem saraf; keringat pada malam hari dan merasa kepanasan, vertigo, lelah, denyut nadi bertambah, nafas pendek, telinga berdenging, kelainan emosi (iritabilitas, nervous, pemarah dan bicara menjadi latah), bertambah depresi, cemas, kompulsif maniak dan bertabiat schizopreni.
Ada  wanita yang mengalami gangguan emosi – psikologi  saat menghadapi dan mengalami menopause. Tetapi tidak berarti semua wanita pada masa mengalami gangguan emosi, karena sebenarnya bagaimana individu menanggapi suatu peristiwa itu sangat ditentukan oleh faktor kepribadiannya khususnya bagaimana ia mengintrepetasi atau menilai peristiwa tersebut. Mudah tidaknya seseorang mengalami gangguan emosional sehubungan dengan terjadinya perubahan fisik yang dialaminya antara lain tergantung dari kepribadiannya, gaya hidupnya, kondisi kesehatan mental dan fisiknya secara menyeluruh, masalah-masalah pribadi yang dialaminya, kondisi lingkungan psikososialnya yang menimbulkan stress.
Beberapa keluhan psikologis yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu:
a.       Ingatan Menurun
Gelaja ini terlihat bahwa sebelum menopause wanita dapat mengingat dengan mudah, namun sesudah mengalami menopause terjadi kemunduran dalam mengingat, bahkan sering lupa pada hal-hal yang sederhana, padahal sebelumnya secara otomatis langsung ingat.
b.      Kecemasan
Banyak ibu-ibu yang mengeluh bahwa setelah menopause dan lansia merasa menjadi pencemas. Kecemasan yang timbul sering dihubungkan dengan adanya kekhawatiran dalam menghadapi situasi yang sebelumnya tidak pernah dikhawatirkan. Misalnya kalau dulu biasa pergi sendirian ke luar kota sendiri, namun sekarang merasa cemas dan khawatir, hal itu sering juga diperkuat oleh larangan dari ana-anaknya. Kecemasan pada Ibu-ibu lansia yang telah menopause umumnya bersifat relatif, artinya ada orang yang cemas dan dapat tenang kembali, setelah mendapatkan semangat/dukungan dari ornag di sekitarnya; namun ada juga yang terus-menerus cemas, meskipun orang-orang disekitarnya telah memberi dukungan. Akan tetapi banyak juga ibu-ibu yang mengalami menopause namun tidak mengalami perubahan yang berarti dalam kehidupannya. Menopause rupanya mirip atau sama juga dengan masa pubertas yang dialami seorang remaja sebagai awal berfungsinya alat-alat reproduksi, dimana ada remaja yang cemas, ada yang khawatir namun ada juga yang biasa-biasa sehingga tidak menimbulkan gejolak.
Adapun simtom-simtom psikologis adanya kecemasan bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Blackburn and Davidson (1990 :9) adalah sebagai berikut :
  • Suasana hati yaitu keadaan yang menunjukkan ketidaktenangan psikis, seperti: mudah marah, perasaan sangat tegang.
  • Pikiran yaitu keadaan pikiran yang tidak menentu, seperti: khawatir, sukar konsentrasi, pikiran kosong, membesar-besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensitif, merasa tidak berdaya.
  • Motivasi yaitu dorongan untuk mencapai sesuatu, seperti : menghindari situasi, ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri, lari dari kenyataan.
  • Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang tidak terkendali seperti : gugup, kewaspadaan yang berlebihan, sangat sensitif dan agitasi.
  • Reaksi-reaksi biologis yang tidak terkendali, seperti : berkeringat, gemetar, pusing, berdebar-debar, mual, mulut kering.
Gangguan kecemasan dianggap berasal dari suatu mekanisme pertahanann diri yang dipilih secara alamiah oleh makhluk hidup bila menghadapi sesuatu yang mengancam dan berbahaya. Kecemasan yang dialami dalam situasi semacam itu memberi isyarat kepada makhluk hidup agar melakukan tindakan mempertahankan diri untuk menghindari atau mengurangi bahaya atau ancaman.
Menjadi cemas pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian dari respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari. Bagaimana juga, bila kecemasan ini berlebihan dan tidak sebanding dengan suatu situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan dan dikenal sebagai masalah klinis.
c.       Mudah Tersinggung
Gejala ini lebih mudah terlihat dibandingkan kecemasan. Wanita lebih mudah tersinggung dan marah terhadap sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak menggangu. Ini mungkin disebabkan dengan datangnya menopause maka wanita menjadi sangat menyadari proses mana yang sedang berlangsung dalam dirinya. Perasaannya menjadi sangat sensitif terhadap sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama jika sikap dan perilaku tersebut dipersepsikan sebagai menyinggung proses penerimaan yang sedang terjadi dalam dirinya.
d.      Stress
Tidak ada orang yang bisa lepas sama sekali dari rasa was-was dan cemas, termasuk para lansia menopause. Ketegangan perasaan atau stress selalu beredar dalam lingkungan pekerjaan, pergaulan sosial, kehidupan rumah tangga dan bahkan menyelusup ke dalam tidur. Kalau tidak ditanggulangi stress dapat menyita energi, mengurangi produktivitas kerja dan menurunkan kekebalan terhadap penyakit, artinya kalau dibiarkan dapat menggerogoti tubuh secara diam-diam.
Namun demikian stress tidak hanya memberikan dampak negatif, tapi bisa juga memberikan dampak positif. Apakah kemudian dampak itu positif atau negatif, tergantung pada bagaimana individu memandang dan mengendalikannya. Stress adalah suatu keadaan atau tantangan yang kapasitasnya diluar kemampuan seseorang oleh karena itu, stress sangat individual sifatnya.
Respon orang terhadap sumber stress sangat beragam, suatu rentang waktu bisa tiba-tiba jadi pencetus stress yang temporer. Stress dapat juga bersifat kronis misalnya konflik keluarga. Reaksi kita terhadap pencetus stress dapat digolongkan dalam dua kategori psikologis dan fisiologis.
Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress tidak bisa diramalkan, sebagaimana perbedaan suasana hati dan emosi kita dapat menimbulkan beragam reaksi, mulai dari hanya ekspresi marah sampai akhirnya ke hal-hal lain yang lebih sulit untuk dikendalikan. Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress ini tergantung pada beberapa faktor, termasuk keadaan emosi pada saat itu dan sikap orang itu dalam menanggapi stress tersebut.
e.       Depresi
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan 9% s/d 26% wanita dan 5% s/d 12% pria pernah menderita penyakit depresi yang gawat di dalam kehidupan mereka. Setiap saat, diperkirakan bahwa 4,5% s/d 9,3% wanita dan 2,3% s/d 3,2% pria akan menderita karena gangguan ini. Dengan demikian secara kasar dapat dikatakan bahwa wanita dua kali lebih besar kemungkinan akan menderita depresi daripada pria.
Wanita yang mengalami depresi sering merasa sedih, karena kehilangan kemampuan untuk bereproduksi, sedih karena kehilangan kesempatan untuk memiliki anak, sedih karena kehilangan daya tarik. Wanita merasa tertekan karena kehilangan seluruh perannya sebagai wanita dan harus menghadapi masa tuanya.
Depresi dapat menyerang wanita untuk satu kali, kadang-kadang depresi merupakan respon terhadap perubahan sosial dan fisik yang sering kali dialami dalam fase kehidupan tertentu, akan tetapi beberapa wanita mungkin mengembangkan rasa depresi yang dalam yang tidak sesuai atau proporsional dengan lingkungan pribadi mereka dan mungkin sulit dihindarkan.
Simton-simton psikologis adanya depresi bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Marie Blakburn dan Kate Davidson (1990:5) adalah sebagai berikut :
  • Suasana hati, ditandai dengan kesedihan, kecemasan, mudah marah.
  • Berpikir, ditandai dengan mudah hilang konsentrasi, lambat dan kacau dalam berpikir, menyalahkan diri sendiri, ragu-ragu, harga diri rendah.
  • Motivasi, ditandai dengan kurang minat bekerja dan menekuni hobi, menghindari kegiatan kerja dan sosial, ingin melarikan diri, ketergantungan tinggi pada orang lain.
  • Perilaku gelisah terlihat dari gerakan yang lamban, sering mondar-mandir, menangis, mengeluh.
  • Sintom biologis, ditandai dengan hilang nafsu makan atau nafsu makan bertambah, hilang hasrat sesksual, tidur terganggu, gelisah.
Mungkin masih ada gejala-gejala fisik maupun psikologis lain yang menyertai menopause. Gejala-gejala tersebut diatas sangat perlu dipahami supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam memperlakukan para lansia. Dengan memahami gejala tersebut diharapkan lansia dapat mengerti apa yang sedang terjadi dalam diri mereka. Selain itu pihak keluarga pun diharapkan dapat merespon secara tepat sehingga tidak membuat lansia merasa dikucilkan atau disia-siakan. Mari kita bantu para lansia kita dengan memahami berbagai gejala fisik maupun psikologis sehingga tahu bagaimana cara terbaik untuk membantu mereka
C.    Cara Mengatasi Gangguan Menopause
Mengatasi gangguan emosional pada wanita menopause:
·         Berbagai keluhan fisik pada wanita yang mengalami menopause, dapat diatasi dengan pemberian obat yang bersifat mengganti hormon estrogen. Pemberian obat ini digunakan untuk memulihkan sel-sel yang mengalami kemunduran. Disamping itu juga bisa menngkonsumsi vitamin yang fungsinya memperlambat proses penuaan. Untuk pengatasan ini perlu konsultasi dengan dokter yang berwewenang. Cara yang lainnya untuk meninhgkatkan estragon dengan makan makanan dan minuman yang berasal dari kedelai
·         Menerima dengan lapang dada bahwa proses penuaan tidak dapat dihindari dan masa menopause adalah sesuatu hal yang sangat alamiah yang dialami oleh setiap wanita
·         Hadapi masalah yang ada satu persatu,jangan sekaligus, berdasarkan prioritasnya
·         Untuk sementara masalah Menopause yang menimbulkan perasaan khawatir itu dihilangkan dan memusatkan pikiran pada sesuatu hal yang sangat berbeda dan menyenangkan
·         Menulis memo untuk diri sendiri untuk mengeluarkan semua unek-unek mengenai situasi perubahan fisik dan psikologik yang menimbulkan kekhawatiran, sikap-sikap orang dilingkungan anda dsb. Anda akan merasa lebih enak dan dapat berpikir lebih rasional setelah emosi-emosi negatif yang mendasari kekhawatiran bisa terekspresikan dalam memo itu
·         Menyesuaikan sikap. Tanyalah pada diri sendiri, hikmah positif apa yang dapat dipelajari saat masa menopause harus dihadapi . Letakkan stressor tersebut dalam perspektif yang benar, jangan biarkan pikiran-pikiran negatif menguasai diri dan hindari sikap pesimis
·         Merubah lingkungan agar tidak lagi berada dalam keadaan yang monoton
·         Mencoba untuk memperbaiki penampilan agar lebih segar dan tampil cantik
·         Makanlah makanan yang sehat dengan kadar lemak yang rendah, berserat, berkalori dan berkadar kolesterol rendah dll
·         Lakukan olah raga yang disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan tubuh, karena riset membuktikan bahwa berolahraga secara teratur dan menjaga kebugaran dapat memperpanjang hidup, memberi dampak positif kepada otak, dan meningkatkan kemampuan mengatasi perasaan khawatir
·         Mempergunakan setiap waktu luang yang ada dengan melakukan banyak kegiatan yang positif dan kreatif. Dengan mengembangkan minat baru dan mempelajari keahlian yang baru akan memberikan perasaan senang bahwa ia bisa berprestasi
·         Masuk kegiatan politik atau aktif di kegiatan sosial, serta dapat memiliki atau menciptakan pekerjaan yang menarik, atau mempunyai pekerjaan dengan penghasilan yang tetap, akan dapat membuat seseorang merasa dirinya berguna bagi orang lain dan meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri
·         Pelajarilah dan berlatihlah secara teratur tehnik relaksasi yang tepat, tehnik-tehnik meditasi, yoga dll
·         Untuk mengatasi masalah pribadi dan lingkungan psikososialnya, perlu konsultasi dengan psikolog atau konsultasi ke dokter sesuai dengan keluhan yang dialaminya
·         Dan yang paling penting adalah tingkatkan ibadah, dekatkan diri pada Allah SWT,  yang akan memperkaya kehidupan ruhani dan menyadari sepenuhnya bila tujuan hidup ini untuk mengabdi pada Allah SWT. Yakinlah bahwa semua proses kehidupan manusia sejak dalam kandungan, lahir, tumbuh dan meninggal, itu semua sudah merupakan  merupakan perwujutan dari ketentuan Allah yang harus dijalani dalam kehidupan dunia, sebelum memasuki kehidupan akhirat yang kekal dan tidak berakhir. Pandanglah bahwa semua yang dialami sebagai kenikmatan dari Allah SWT. Menopause bukan akhir dari suatu kehidupan, bahkan merupakan saat yang tepat untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Menopause sebagai bagian dari proses kehidupan memang tidak dapat dihindari. Menopause bukanlah suatu penyakit, namun merupakan tahap yang tidak dapat dihindari pada kehidupan wanita. Beberapa gejala dari menopause tersebut yaitu: Penurunan jumlah dan lama siklus menstruasi, Frekuensi menstruasi abnormal, Ketidakteraturan tersebut dapat berakhir dalam beberapa bulan atau beberapa tahun sebelum siklus menstruasi berhenti sama sekali. Mengatasi gangguan menopause dengan cara modifikasi gaya hidup menjadi lebih sehat dan selalu berpikiran positif.
B.     Saran
Masa menopause adalah suatu proses alamiah yang pasti dialami oleh setiap wanita. Untuk menghadapinya agar tidak timbul gangguan emosional yang pada dirinya maupun lingkungan, wanita perlu mengembangkan pikiran yang positif agar dapat mempersiapkan diri dengan menjaga kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh sejak masih muda, juga memperluas wawasan pengetahuan tentang masalah menopause.
Pada saat sudah masuk pada masa menopause, tetaplah aktif mempergunakan waktu luang yang ada dengan menjalin komunikasi yang terbuka dengan anggota keluarga ataupun lingkungan sosialnya, ikut dalam kegiatan positif dilingkungan sosialnya, menyalurkan hobi yang kemungkinan bisa menghasilkan sesuatu hasil karya ataupun mendatangkan uang sehingga para wanita menopause tetap bisa merasa bahwa dirinya berarti, ia merasa diperhatikan, dibutuhkan dan dihargai dengan demikian masa menopause justru merupakan awal kehidupan yang membahagiakan apabila ia bisa mensyukuri hikmah yang diperolehnya dalam kehidupan ini.

DAFTAR PUSTAKA
1.      “Mencegah dan Mengatasi Gangguan Menopause Secara Alamiah”. Prof.H.M. Hembing Wijayakusuma. http://cybermed.cbn.net.id/detilhit.asp?kategori=Hembing&newsno=48
2.      “Mengatasi Gangguan Emosional Pada Wanita Menopause”.
Dra. M.Louise Maspaitella M.Psi. www.klinikmedis.com
3.      “Menopause”. http://www.klikdokter.com/illness/
4.      “Menopause”. http://id.wikipedia.org/wiki/Menopause